Minggu, 20 Oktober 2013

Puisiku ceritaku



Mahasiswa
Dirimu adalah emas
Langkahmu adalah pancaran sinar
Pengabdianmu adalah melodi ilmu
Kehadiranmubagaikan oase
                                Dipundakmu kaupikul negara
                                Ditanganmu kau genggam dunia
                                Sosokmu begitu berwibawa
                                Pribadi yang begitu mulia
                                Membawa seberkas cahaya
Dibalik pesonamu
Sosok seorang pemimpin muda terpancar
Pemimpin yang jujur, bijaksana dan berbudi luhur
Bukan hanya sebatas popularitas belaka
Bukan hanya menang dengan kata-kata
                                Wahai pemimpin muda penuh kharisma
                                Pimpinlah kami dengan kobaran semangatmu
                                Pimpinlah kami dengan janji-janjimu
                                Sedikit bicara banyak usaha
                                Sedikit orasi banyak mengabdi
Wahai pemimpin muda idaman
Tuntunlah kami dengan sayap prestasimu
Rangkul kami dengan mulianya akhlakmu
Terangi kami dengan sejuta ilmu
Bawa kami dalam perubahan abadi
Perubahan idaman kampus masa depan

Tulisan saya




STAIN Salatiga merupakan Perguruan Tinggi Negeri di bawah naungan Kementrian Agama Republik Indonesia yang berlokasi di Salatiga. STAIN Salatiga memiliki 2 lokasi kampus, kampus I berlokasi di jalan Tentara  Pelajar Nomor 02 dan kampus II  di jalan Nakula Sadewa VA Nomor 09 Kembang Arum Salatiga Jawa Tengah. Sebagai sekolah tinggi bernafaskan islam, STAIN Salatiga memiliki corak tersendiri dibidang penyelenggaraan pendidikan maupun segala sesuatu yang termasuk di dalamnya. Artinya kultur pendidikan di STAIN berbeda dengan Perguruan Tinggi Umum lainnya. Pendidikan di STAIN lebih  memadukan antara 2 ilmu sekaligus yaitu ilmu agama dan ilmu umum. Hal ini memberi peluang kepada mahasiswa untuk bisa menguasai 2 ilmu itu sekaligus, dengan harapan lulusan dari STAIN tidak hanya intelek di wawasan umum tetapi juga intelek di wawasan agamanya. Dengan capaian akhir yang sedemikian luar biasanya itu tentunya suatu lembaga yang mewadahinya yaitu STAIN Salatiga dalam hal ini harus benar-benar bisa menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, berwawasan global dan mampu menjadi pionir bagi perguruan tinggi di Indonesia. Di sini saya  mengambil judul Mundur 1 Langkah untuk Maju 1000 Langkah. Arti judul yang saya maksudkan disini adalah mundur untuk melihat kekurangan-kekurangan apa yang dimiliki STAIN Salatiga saat ini yang selanjutnya bisa dijadikan tiang pancang dalam seribu langkah efektif pengembangan STAIN Salatiga. Dengan kata lain kekurangan itu bisa manjadi ajang bagi STAIN Salatiga untuk membenahi diri dalam segala hal. Jadi kekurangan itu bukan menjadi hambatan bagi STAIN Salatiga untuk berkembang ke arah yang lebih baik tetapi justru menjadi titik penyemangat demi kejayaaan ke depannya. Dan sebagai perguruan tinggi  terbaik se-STAIN se-Nusantara dan nomor 7 se-PTAIN se- Indonesia sudah seharusnya STAIN Salatiga melesat jauh dalam bidang apapun. Baik itu pendidikannya, UKM, dosen, mahasiswa, maupun hal-hal lain. Untuk itu dalam artikel ini saya akan mengemukakan beberapa ide untuk pengembangan STAIN Salatiga.
1.       Dosen
Dalam konteks pendidikan di Perguruan Tinggi, dosen memiliki peranan yang cukup penting. Yaitu mengantarkan mahasiswanya menjadi mahasiswa yang produktif, inovatif, dan berdaya saing tinggi. Atas dasar itu kualitas dosen perlu dikembangkan secara berkelanjutan. Seorang dosen harus memiliki kompetensi profesinal. Kompetensi professional yang dimaksud sebagaimana dikemukakan Jarvis (1983) meliputi 3 elemen yaitu :
a.       Pengetahuan dan pemahaman tentang disiplin akademik, elemen psikomotor, hubungan interpersonal ,dan nilai-nilai moral.
b.      Keterampilan-keterampilan yang mencakup: melaksanakan prosedur-prosedur yang bersifat psikomotorik , berinteraksi dengan orang lain.
c.       Sikap-sikap professional yang mencakup: pengetahuan tentang profesionalisme, komitmen  emosi terhadap profesionalisme, dan kesediaan untuk bertindak secara professional
Semua itu jika bisa dimiliki oleh dosen maka bukan tidak mungkin seorang dosen bisa  merubah mahasiswanya menjadi mahasiswa yang bermutu tinggi. Jadi hal-hal yang harus diperhatikan antara lain pendidikan dosen, cara menyampaikan mata kuliahnya serta hubungan dengan para mahasiswanya. Pendididkan menjadi hal yang penting bagi seorang dosen. Jadi semakin tinggi pendidikannya, semakin baik hasilnya bagi kemajuan STAIN Salatiga. Hal lain tentang cara penyampaian  mata kuliah dan hubungannya dengan para mahasiswanya juga perlu diperhatikan secara khusus. Cara  penyampaian mata kuliah secara tepat juga mendukung terbentuknya mahasiswa yang kreatif, inovatif dan berprestasi. Hubungan yang baik dengan mahasiswa juga memiliki pengaruh besar terhadap kemajuan pada diri mahasiswa pada khususnya dan kemajuan pada STAIN pada umumnya.
2.       Fakultas
Sebagai sekolah tinggi agama islam negeri satu-satunya di Salatiga, sudah seharusnya pengembangan STAIN di berbagai aspek harus diperhatikan betul. Salah satu pengembangan yang harus dilakukan adalah pegambangan fakultas. Fakultas yang dikembangkan bukan hanya fakultas-fakultas agama, tetapi juga fakultas –fakultas umum dengan corak epistemology, keilmuan dan etika moral keagamaan yang integralistik. Dalam konsep ini, fakultas agama tetap dipertahankan seperti yang ada sekarang, namun perlu dikembangkan kurikulumnya yang sesuai dengan kebutuhan  masyarakat pengguna jasa STAIN (yang nantinya akan berubah menjadi UIN) di era global dan didukung tenaga pengajar dan dosen-dosennya dengan berbagai metode dan pendekatan baru dalam islamic studies,humanities,dan ilmu-ilmu social. Sedangkan dalam fakultas-fakultas umum baik dalam bentuk wider mandate maupun universitas perlu dibekali muatan-muatan spiritualitas dan moral keagamaan yang lebih kritis dan terarah dalam format integrated curriculum, dan bukannya separated curriculum seperti yang berjalan selama ini. Pengembangan STAIN dalam bidang ini diharapkan mampu melahirkan pendidikan islam yang ideal dimasa depan.
3.       Pencangkokan IAIN atau UIN ke Perguruan Tinggi Negeri
Kelak STAIN jika sudah berubah menjadi IAIN atau UIN, usulan untuk mencangkokkan IAIN atau UIN ke Perguruan Tinggi Umum Negeri terdekat tidak ada salahnya dipertimbangkan. Sebagai contoh UIN Salatiga dicangkokkan saja ke UNDIP Semarang. Jika memang memungkinkan dan syarat-syaratnya bisa dipenuhi, maka saya rasa itu akan menjadi awal yang bagus untuk mengembangkan pendidikan berbasis islam di Perguruan Tinggi Umum.
4.       Program PPL
Seperti yang kita ketahui saat ini program KKI melaksanakan kegiatan PPL di luar negeri. Saya berfikir tidak ada salahnya program reguler atau non KKI juga bisa melaksanakan PPL di luar negeri. Masalah persyaratan dan teknisnya bisa dipersiapkan secara matang sejak dini. Dan jika memungkinkan tidak ada salahnya program itu dicoba mengingat mahasiswa reguler kemampuan akademisnya juga tidak kalah dengan mahasiswa KKI. Selain itu juga  melirik peluang kerja di luar negeri yang saya rasa cukup bagus. Karena ternyata di luar negeri banyak membutuhkan  tenaga pendidik dari jurusan agama. Hal ini bisa menjadi peluang bagus bagi STAIN untuk mengembangkan  prospeknya ke luar negeri.
5.       Sarana dan Prasarana
Semakin pesatnya pertumbuhan IT menuntut kita sebagai mahasiswa harus mampu mengenal dan menguasai IT dengan se optimal mungkin. Karena persaingan di kancah global tidak hanya sebatas pengetahuan umum saja tetapi juga penguasaan IT dengan baik. Dengan semakin banyaknya mahasiswa di STAIN Salatiga juga harus diimbangi dengan  penambahan sarana prasarana yang berbasis IT. Sebagai contoh penambahan gedung baru yang dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Jadi disini perkuliahan di STAIN Salatiga semuanya berbasis IT. Dengan adanya penambahan gedung baru serta sarana dan prasarana, pembelajaran berbasis IT diharapkan mampu menunjang proses perkuliahan yang optimal di STAIN Salatiga sehingga bisa mendukung kemajuan STAIN Salatiga.
6.       UKM
UKM adalah salah satu wadah yang positif untuk mengembangkan bakat dan minat mahasiswa. Untuk itu penambahan jenis UKM perlu dipertimbangkan juga. Mengingat bakat dan minat seseorang sangat beragam. Misal ditambah UKM yang menonjolkan kebudayaan jawa ataupun penambahan UKM lainnya yang dirasa perlu ada di STAIN Salatiga. Semua itu diharapkan menjadi salah satu faktor pendorong kemajuan STAIN Salatiga.
7.       Radio Kampus
Untuk menambah wawasan akan informasi baik dari luar maupun dalam kampus lebih-lebih dalam dan luar negeri,  radio kampus perlu juga dirintis. Selain untuk mengasah kemampuan di bidang penyiaran juga menambah asupan ilmu ataupun informasi bagi seluruh sivitas akademika STAIN Salatiga. Jadi antara satu dengan yang lain saling mendukung untuk terciptanya kampus yang berwawasan islami dan global.

Itulah sedikit ide yang bisa saya sumbangkan untuk kemajuan STAIN Salatiga ini dan tulisan ini saya persembahkan untuk STAIN Salatiga tercinta. Semoga kedepannya menjadi STAIN Salatiga Universitas Islam Negeri terbesar dan terdepan sehingga mampu menciptakan suasana pendidikan baru di Indonesia tercinta ini. Amin.
Daftar Pustaka
Abdullah,  Amin M. 2010. Membangun Budaya Pendidikan Mutu Perguruan Tinggi. Yogyakarta:            Pustaka Pelajar.
Sumardjoko, Bambang. 2010. Islamic Studies di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

WINDAWATI
115-12-028
 Jika menjejakkan kaki di tanah Inggris, maka salah satu tujuan wisata yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari seorang pembaca karya-karya Andrea Hirata adalah Edensor.
Edensor adalah desa yang dideskripsikan Andrea Hirata di novel Laskar Pelangi dengan kutipan-kutipan dari buku If Only They Could Talk karya James Herriot, desa yang diceritakan menjadi tujuan perjalanan Ikal di buku Edensor.
Edensor berada di wilayah Peak District, dekat Kota Sheffield. Perjalanan dari Leeds menuju Sheffield bisa ditempuh dalam waktu satu jam dengan kereta yang tiketnya seharga 7 Pounds. Bus yang melewati Edensor bisa didapat di stasiun bus yang jaraknya lima menit jalan kaki dari Stasiun kereta Sheffield. Frekuensi kedatangan bus itu setengah jam sekali pada hari kerja dan hanya sejam sekali pada hari libur dengan tiket pulang-pergi seharga 5 pounds.  
Pemandangan kota-kota kecil yang dilatarbelakangi bukit dan lembah kehijauan berlangsung selama satu jam perjalanan. Jalan berkelok-kelok persis seperti dalam deskripsi buku Edensor. Semakin lama ditempuh, semakin kota-kota tersebut beralih menjadi desa, semakin kecil, semakin hijau.
Bus berhenti di pemberhentian Chatsworth, di mana terdapat objek wisata Chatsworth House, yaitu sebuah rumah besar tempat tinggal Dukes of Devonshire. Tempat yang menjadi salah satu setting adegan di film Pride and Prejudice, film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Jane Austen. Bangunan kuno megah yang dikelilingi dengan taman dan air mancur yang indah serta tetumbuhan menjalar yang berbentuk labirin besar merupakan daya tarik wisata utama di sekitar tempat ini.
Namun, bagi orang Indonesia yang juga menjadi pembaca Laskar Pelangi, menemukan Edensor tetap merupakan prioritas utama, tak tergantikan. Dari Chatsworth House, Edensor bisa dicapai dengan berjalan kaki melalui sebuah bukit.
Sejauh mata memandang terhampar landscape hijau di antara pepohonan dengan dedaunan yang memerah menjelang musim gugur. Beribu domba menyebar dan menjalani hidup dengan damai di lahan rerumputan itu. Tanpa beban, hanya perlu makan. Orang-orang yang memiliki penyakit sulit tidur sebaiknya segera datang ke sini dan mulai menghitung domba-domba tersebut.
Setelah berjalan menelusuri jalan setapak berbatu yang menembus bukit, berpapasan dengan beberapa turis lokal yang ramah, akhirnya sampai di sebuah gereja dengan rumah-rumah di sekelilingnya. Papan nama gereja itulah satu-satunya bukti formal bahwa ini adalah Edensor. Gerbang desa berukir ayam jantan dan papan nama Edensor tak ditemukan, sehingga menerbitkan niat di dalam hati untuk membuat sendiri papan nama itu di rumah dan memasangnya di salah satu jalan ke arah desa, lalu berfoto di sana.
Namun demikian, suasana desa, hawa sejuknya, udara yang sangat segar sehabis hujan, bebukitan yang menghampar tak beraturan, sungai berair tenang yang berliku membelah ladang, rumah-rumah petani yang terbuat dari batu berwarna kelabu, tanaman bunga di pekarangan dan pagar, aneka pohon apel yang bertebaran di antara rerumputan hijau. Semua terangkai dengan bingkai langit biru dan sekelompok awan sisa hujan yang berarak mengejar burung-burung yang terbang bebas, melengkapi gambaran indah yang menciptakan suasana damai. Edensor, sungguh tempat dengan pesona surgawi yang dapat menentramkan hati, layaknya seorang kekasih.
Jika memiliki kekasih, maka tempat ini akan menghadirkan keinginan untuk membawanya duduk dan bercengkrama di bawah salah satu pohon apel itu, di musim saat bunga-bunga bersemi, mekar berwarna-warni yang harum semerbak mewangi.  
Jika telah berpisah dengan kekasih, maka tempat ini akan menghadirkan berbagai pengandaian bahwa mesin waktu bisa ditemukan untuk kembali ke masa lalu, sekedar menculiknya dan membawanya duduk dan berbagi cerita di bawah salah satu pohon apel itu, di musim saat bunga-bunga sedang berseri sehingga dapat membuat cinta bersemi kembali.
Jika mempunyai domba, maka tempat ini akan menghadirkan pengandaian untuk membawa domba itu dan melepasnya untuk bergabung dengan domba-domba lain yang sedang berbahagia memakan buah apel yang jatuh sebagai kudapan di antara rerumputan hijau dan tanaman berbuah ceri.
Jika hanya seorang diri, tidak punya kekasih, tidak punya mantan kekasih, dan tidak punya domba, betapa pun menyedihkannya, cukuplah duduk berdiam diri di bawah sebuah pohon apel itu, dengan kemungkinan menemukan teori gravitasi baru, yang kabarnya ditemukan Newton karena diilhami kejatuhan buah apel itu.
Edensor, selalu akan menjadi sumber dari berbagai inspirasi. Menjadi inspirasi bagi banyak orang Indonesia untuk berkelana ke Negeri Britania Raya, menjadi inspirasi untuk menulis novel dan film romantis, menjadi inspirasi untuk menemukan teori gravitasi, sebagaimana juga menjadi inspirasi untuk menulis cerita perjalanan di detikTravel ini. Suatu saat di musim semi, kita akan ke sana lagi. “Sure Love, It’s Edensor.”